Anak Sang Peniru
Terhebat
14-09-2010 diposkan
oleh melindacare
Orang-orang sering
mengatakan bahwa "anak
bagaikan kertas putih yang
masih bersih, tinggal bagaimana
orangtuanya akan
memanfaatkan kertas tersebut,
apakah akan digambari lukisan
yang indah atau hanya dicorat-
coret tak beraturan". Hal
tersebut memang benar adanya.
Anak tidak akan tahu apa-apa
tanpa diajari oleh orangtuanya.
Namun seiring berjalannya
waktu, anak pun akan belajar
dari teman-teman dan
lingkungannya. Tugas
orangtualah yang memberikan
dasar-dasar bagi anak agar
dalam pergaulannya kelak tidak
salah jalan.
Masa-masa emas seorang
anak adalah pada umur 0-3
tahun. Pada masa inilah seorang
anak akan merespon dengan
segera apa yang didengar dan
dilihat di sekitarnya. Anak kecil
selalu penasaran dengan apa
yang dilihatnya, sehingga
cenderung akan meniru apa
yang dilakukan oleh orang lain
terutama orangtua yang selalu
dekat dengannya. Saat Anda
melakukan kebiasaan-kebiasaan
yang buruk di depan anak, maka
mereka akan menganggap hal
itulah yang benar. Perlu
diketahui, pada saat itu otak
anak berkembang sangat cepat
sehingga informasi apapun akan
diserap tanpa melihat baik atau
buruk. Maka tugas orangtua
adalah mengarahkan anak ke
jalan yang baik dengan penuh
rasa cinta dan kasih sayang.
Jangan mengajarkan anak
untuk melakukan sesuatu hal
namun Anda sendiri tidak
melakukannya, sang anak akan
bertanya-tanya mengapa Anda
tidak melakukan hal yang sama.
Jadi jika Anda ingin
membiasakan anak melakukan
hal yang baik seperti mandi di
sore hari, maka Anda pun harus
melakukan hal yang sama. Mau
tidak mau, memang begitulah
cara mereka belajar. Selain itu,
Anda juga harus hati-hati dalam
bersikap di depan anak. Jika
Anda sering melakukan hal-hal
yang kurang baik seperti marah-
marah atau berbohong, maka
jangan heran jika anak kelak
akan melakukan hal yang sama.
Ada anak-anak yang dapat
menuruti apapun yang diajarkan
oleh orangtua mereka. Namun
saat ini anak-anak menjadi lebih
kritis dengan melihat apakah
pelajaran yang mereka dapatkan
dipraktekkan juga oleh orangtua
mereka. Ketika orangtua
mengajarkan untuk mencuci
tangan sebelum makan namun
orangtua mereka tidak pernah
mencuci tangan sebelum
makan, maka anak akan
menganggap hal tersebut bukan
sesuatu yang pantas dijadikan
kebiasaan. Selain itu, akan
tertanam juga bahwa hal
tersebut hanya perlu dilakukan
oleh anak-anak sehingga saat
beranjak dewasa mereka akan
meninggalkan kebiasaan-
kebiasaan tersebut. Hal itu akan
diperparah jika Anda merasa
tidak perlu lagi untuk
mengawasi kebiasaan-kebiasaan
mereka setelah dewasa.
Sebenarnya perbuatan
meniru merupakan sebuah
proses alami yang terjadi pada
setiap anak dan merupakan
proses pembelajaran untuk
mengenali lingkungannya. Anak
juga lebih banyak dan lebih
mudah belajar dari lingkungan
sekitarnya sehingga segala
sesuatu dapat mempengaruhi
kebiasaan anak, baik maupun
buruk. Jika anak senang
memainkan handphone karena
melihat orangtuanya sering
menggunakan barang tersebut,
sebaiknya biarkan dahulu dia
mencobanya agar tidak menjadi
penasaran. Namun kebiasaan
tersebut juga harus dikontrol
agar tidak menyimpang dan
kebablasan, karena jika
dibiarkan terus anak akan
tumbuh dewasa lebih cepat
dibandingkan anak-anak
seumurannya.
Jika sudah begitu, perilaku
sehari-harinya pun akan
terpengaruh dan tidak
mencerminkan perilaku atau
kebiasaan seorang anak,
terutama saat bermain dengan
teman-temannya yang
seumuran. Ada baiknya untuk
menggunakan segala sesuatu
sesuai dengan peruntukannya,
begitu juga untuk anak-anak.
Jika anak ingin bermain-main
dengan handphone, berikanlah
handphone mainan untuknya
agar rasa penasarannya hilang.
Namun yang tak kalah penting,
jangan pernah memarahi
apalagi membentak anak jika
meniru kebiasaan orangtuanya.
Cukup berikan penjelasan pada
anak bahwa mereka belum
pantas melakukan hal-hal atau
menggunakan barang-barang
seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar